bunda
aku berdiri tegak disebuah panggung yang megah
mataku tertuju pada dua orang yang berada di jalan setapak itu
ada senyuman yang tak asing bagiku senyuman bangga pada ku
dua orang yang sangat ku cintai,kusayangi,dan ku hormati
ya. mereka adalah ayah dan bundaku
ku pandang mereka inci dami inci
badan yang dulu tegak kini mulai membungkuk
kulit yang dulu kencang kini mulai mengkerut
rambut yang dulu hitam kini mulai memutih
aku berjalan pelan kearahnya
kuraih tangannya kupeluk ia
ku cium pipinya yang kini telah keriput
butiran bening itu mulai muncul dari pelupuk mata keduanya
tangisan bangga karna aku kini bisa memakai toga ini
bunda..
yang selalu sabar dengan sikap kekanak-anakanku
yang selalu ada untuk mengusap luka dan air mataku
sering,aku berkata kasar padanya ketika ia tak memahamiku
bahkan sering pula aku banting pintu ketika ia tak mengabulkan permitaanku
namun, apakah ia menyimpan dendam dan benci padaku?
tidak,tidak sama sekali
ia bisa tetap dengan mudah memaafkanku dan masih saja menyayangiku.
kau tak pernah membiarkan seekor nyamuk pun berani
hinggap di tubuhku
namun aku tak pernah bisa menyambuhkan luka yang ku goreskan pada mu bunda
kau hanya bilang kalau kau tak apa-apa
walaupun darah telah bercucuran di tubuhmu
yang kau pentingkan hanyalah aku yang hanya bisa merengek karna
gigitan nyamuk
bunda..
kaulah bidadari yang nyata.